MEREKA KANGEN KAMU MBAH....!!
Tadi sore pukul 4, aku mampir di angkringan Lek Parmo, sekedar cari es teh manis buat ngobati haus. Begitu rame pembelinya, hingga 3 bangku dan 2 tikar kepake semua. Kebanyakan usia paruh baya. Dari wangi tubuh mereka keihatan sepulang dari sawah.
Sangat begitu bersahaja obrolan mereka, ringan dan up to date (menurut istilah Mas Tukul Bukan Empat Mata). Biasa, topik yg lagi marak masalah BBM mo naik.
Ujung2nya... banyak dari mereka yg mencaci Pemerintah (sekarang), banyak pula yg mengelu-elukan karena BLT-nya. Begitu tegang pembicaraannya, namun tetap dlm kondisi damai, asyik mendengarnya...
Namun, ada satu pemikiran yg entah bagaimana bisa membuat mereka padu, saling mengangguk dan menyetujui, dan pemikiran itu pula yg membuat hatiku teriris...
Mereka begitu kangen dgn sosok si Mbah, si Mbah yg begitu mereka elu-elukan, dan si Mbah yg telah Kami runtuhkan dgn dalih Reformasi. Kemudahan sandang –pangan-papan-dan pekerjaan pada Era-nya begitu mereka rindukan..
Pemikiran Reformis Kami ternyata belum bisa membawa hidup mereka dalam taraf lebih baik. Pemikiran Reformis Kami membawa hidup mereka dalam ranah politik tak karuan...
Begitu Ironis...
Kami salah, ternyata mereka tak pernah bahkan tak ingin tahu politik, mereka hanya berharap dapur tetap ngepul...
Lalu...
Buat siapa dulu kami berjuang????
Tadi sore pukul 4, aku mampir di angkringan Lek Parmo, sekedar cari es teh manis buat ngobati haus. Begitu rame pembelinya, hingga 3 bangku dan 2 tikar kepake semua. Kebanyakan usia paruh baya. Dari wangi tubuh mereka keihatan sepulang dari sawah.
Sangat begitu bersahaja obrolan mereka, ringan dan up to date (menurut istilah Mas Tukul Bukan Empat Mata). Biasa, topik yg lagi marak masalah BBM mo naik.
Ujung2nya... banyak dari mereka yg mencaci Pemerintah (sekarang), banyak pula yg mengelu-elukan karena BLT-nya. Begitu tegang pembicaraannya, namun tetap dlm kondisi damai, asyik mendengarnya...
Namun, ada satu pemikiran yg entah bagaimana bisa membuat mereka padu, saling mengangguk dan menyetujui, dan pemikiran itu pula yg membuat hatiku teriris...
Mereka begitu kangen dgn sosok si Mbah, si Mbah yg begitu mereka elu-elukan, dan si Mbah yg telah Kami runtuhkan dgn dalih Reformasi. Kemudahan sandang –pangan-papan-dan pekerjaan pada Era-nya begitu mereka rindukan..
Pemikiran Reformis Kami ternyata belum bisa membawa hidup mereka dalam taraf lebih baik. Pemikiran Reformis Kami membawa hidup mereka dalam ranah politik tak karuan...
Begitu Ironis...
Kami salah, ternyata mereka tak pernah bahkan tak ingin tahu politik, mereka hanya berharap dapur tetap ngepul...
Lalu...
Buat siapa dulu kami berjuang????
Kami yg bodoh atau mereka yg terbodohi????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar